

kuharap ada saat dimana lembar-lembar berisi kalimat-Nya menjadi tanda ikatan suci kita…
kuharap ada saat dimana kau berdiri di belakangku saat kulantunkan kalimat-Nya di penghujung malam…
kuharap ada saat dimana kau ajarkan kalimat-Nya kepada buah hati penyejuk pandangan kita…
bukankah kalimat-Nya adalah kata-kata terbaik dan terindah yang pernah ada….
Pagi ini mentari terbit seolah memberi warna pada daun-daun dan bunga-bunga. Aku berharap wajahmulah hal pertama yang tercermin di bola mataku bersama sinar mentari. Akan tetapi ku tahu, saat ini wajahmu hanya tampak sebagai sebuah siluet dalam pigura khayalku.
Iya, wajah kamu, kamu yang sekarang masih tanpa nama. Kamu yang masih bersembunyi dibalik tanda tanya yang terpaku tegak di relung hatiku. Kamu yang merupakan sebuah pertanyaan yang sangat mudah bagiku, sekaligus sebuah jawaban yang sangat sulit aku temukan.
Apakah kamu soal matematika yang bisa kujawab dengan integral lipat tiga? Ah tak mungkin. Bisa jadi kamu suka matematika, tapi ku tahu, dan mungkin kamu juga tahu, cinta kita tak bisa dihitung dengan angka.
Ataukah kamu sebuah soal geografi yang selalu membuatku mencari koordinat bujur dan lintangmu? Aku hanya tahu proyeksi posisimu, kau ada di hatiku, tapi aku tak tahu kau sebenarnya ada dimana.
Tahukah kamu jika tiap pagi ku selalu menyapamu? meski hanya dalam diam, dalam kesunyian, tanpa balasan. Dan sadarkah kamu jika tiap terjaga ku selalu menatapmu? meski yang kulihat hanyalah sebuah bayangan maya dalam ruang hampa. Akupun selalu berusaha menyentuhmu. Namun kau hanya bagaikan asap yang memudar dalam genggaman tanganku.
Mungkin kita pernah bertemu, kubuat kau tertawa dan kau juga buatku tersenyum. Mungkin kita hanya saling tahu tanpa pernah bertutur sapa. Mungkin juga kita pernah saling menatap tanpa saling mengenal. Atau mungkin kita tak pernah bertemu sebelumnya. Bahkan bisa jadi kita tak pernah bertemu di dunia, hanya akhirat lah yang menjadi latar kisah kita.
Kini ku hanya harus terus berjalan, mencoba menyibak setiap asa, mengarungi setiap mimpi, menerjang setiap perih, untuk sebuah jawaban, sesuatu yang telah dijanjikan. Mitsaqan Ghaliza.

Or just give me the password I can login with…