Relung Hati

ketika hati berkata-kata


  • hati: cinta, kapankah kau akan menghampiri keberadaanku? kau tahu aku sudah siapkan tempat bagimu.
  • cinta: bukankah berulangkali kukatakan kepadamu, kau hanya harus sabar menungguku.
  • hati: tapi kenapa? apa lagi yang harus aku tunggu?
  • cinta: tidakkah kau sadar bahwa aku juga sedang menunggu, menunggu sesuatu yang ku tak tahu.
  • hati: yang kutahu kuhanya merasa nyaman dengan adanya kau di relungku.
  • cinta: kau akan lebih nyaman ketika telah kutemukan pelengkap diriku, karena saat ini aku hanyalah sebuah rindu.
  • hati: aku harap rindu membawamu pada apa yang kan menjadikanmu cinta yang bisa mengisi kekosonganku.
  • cinta: dan kaupun harus menjaga tempatku agar tak ada satu kepedihan pun yang merebutnya dariku.
  • hati: asal kau tetap mencari pada jalan yang tak dibenci, takkan kubiarkan kepedihan menghancurkanku.
  • cinta: aku harap ku kan kembali padamu sebagai cinta yang utuh, tuk membangun mimpi-mimpi menjadi kebahagiaan abadi yang tak lekang oleh waktu.
menangis tak menunjukkan bahwa kau lemah, sejak kau lahir menangis selalu menandakan bahwa kau hidup. untuk siapa saja yang sedang menangis

Kalimat-Nya

kuharap ada saat dimana lembar-lembar berisi kalimat-Nya menjadi tanda ikatan suci kita…

kuharap ada saat dimana kau berdiri di belakangku saat kulantunkan kalimat-Nya di penghujung malam…

kuharap ada saat dimana kau ajarkan kalimat-Nya kepada buah hati penyejuk pandangan kita…

bukankah kalimat-Nya adalah kata-kata terbaik dan terindah yang pernah ada….

kau adalah sebaris doa yang selalu terbisik dalam tadahan tanganku.

Untukmu Yang Masih Saja Menjadi Sebuah Tanya

Pagi ini mentari terbit seolah memberi warna pada daun-daun dan bunga-bunga. Aku berharap wajahmulah hal pertama yang tercermin di bola mataku bersama sinar mentari. Akan tetapi ku tahu, saat ini wajahmu hanya tampak sebagai sebuah siluet dalam pigura khayalku. 

Iya, wajah kamu, kamu yang sekarang masih tanpa nama. Kamu yang masih bersembunyi dibalik tanda tanya yang terpaku tegak di relung hatiku. Kamu yang merupakan sebuah pertanyaan yang sangat mudah bagiku, sekaligus sebuah jawaban yang sangat sulit aku temukan.

Apakah kamu soal matematika yang bisa kujawab dengan integral lipat tiga? Ah tak mungkin. Bisa jadi kamu suka matematika, tapi ku tahu, dan mungkin kamu juga tahu, cinta kita tak bisa dihitung dengan angka. 

Ataukah kamu sebuah soal geografi yang selalu membuatku mencari koordinat bujur dan lintangmu? Aku hanya tahu proyeksi posisimu, kau ada di hatiku, tapi aku tak tahu kau sebenarnya ada dimana.

Tahukah kamu jika tiap pagi ku selalu menyapamu? meski hanya dalam diam, dalam kesunyian, tanpa balasan. Dan sadarkah kamu jika tiap terjaga ku selalu menatapmu? meski yang kulihat hanyalah sebuah bayangan maya dalam ruang hampa. Akupun selalu berusaha menyentuhmu. Namun kau hanya bagaikan asap yang memudar dalam genggaman tanganku.

Mungkin kita pernah bertemu, kubuat kau tertawa dan kau juga buatku tersenyum. Mungkin kita hanya saling tahu tanpa pernah bertutur sapa. Mungkin juga kita pernah saling menatap tanpa saling mengenal. Atau mungkin kita tak pernah bertemu sebelumnya. Bahkan bisa jadi kita tak pernah bertemu di dunia, hanya akhirat lah yang menjadi latar kisah kita.

Kini ku hanya harus terus berjalan, mencoba menyibak setiap asa, mengarungi setiap mimpi, menerjang setiap perih, untuk sebuah jawaban, sesuatu yang telah dijanjikan. Mitsaqan Ghaliza. 


janganlah kau sedih jika kau tak melihat bintang malam ini, bintang-bintang itu hanya sedang menyimpan sinarnya untuk bisa kau lihat dalam tidurmu, tuk hiasi mimpimu.
Or just give me the password I can login with…

Or just give me the password I can login with…

aku tak berpikir malam ada untuk membuatmu merasa gelap, tp malam ada untuk kamu tahu bahwa siang tak ingin sendiri, sebagaimana kamu yang tak ingin sendiri dan aku yang ingin ada untukmu.